Pada abad ke-17 dan ke-18, pemimpin-pemimpin di negeri Inggeris merasa kewalahan. Manufaktur Inggeris paling jitu di dunia menghasilkan kain wol dengan peralatan produktif yang serba modern (dan mahal), tapi apa daya, buruh Inggeris serba lamban dan pemalas, dianggapnya. Bagaimana jalan keluarnya? Dibuatlah Undang-undang liwat parlemen, supaya tanah-tanah desa (commons) diswastakan. Tanah tempat angon domba itu kemudian tutuplah bagi para petani penggembala domba (yang bulunya diperuntuk produksi wol) yang tidak bebas lagi mengangonkan dombanya di bekas tanah desa itu. Makin banyak yang bangkrut, mengungsi ke kota mencari sumber nafkah yang baru. Terjadilah persaingan antara buruh dan gelandangan yang memperebutkan tempat kerja di pabrik.
Leluasalah majikan pabrik dalam suasana ini untuk berangsur-angsur menyekrup jam kerja dari 8 jam sehari menjadi 10 jam, 12 jam, 14 jam, disana-sini bahkan lebih dari 16 jam sehari. Untung saja masih ada Gereja, maka buruh masih bisa mempertahankan satu hari bebas setiap pekan, pada hari Ahad. Anak-anak dari umur 8 tahun atau lebih mudapun terpaksa bekerja berjam-jam di pabrik, tak beda dengan di manufaktur-manufaktur permadani di Kashmir. Pemerasan yang berlebih-lebihan itu kian merusak kesehatan rakyat, dan taraf persekolahannya juga merosot. Timbullah pada waktu itu pepatah Inggeris yang terkenal, bahwa all work and no play, did not make Jack Horner a good boy. Akhirnya, agar tidak sampai mengalami senjata makan tuan, majikan-majikan mengurangi pemerasan buruh sehingga terjadi keseimbangan antara usahawan dan serikat buruh yang menjamin kelanggengan persediaan tenaga buruh yang sehat dan ahli, dengan keintensifan kerja yang memanfaatkan tenaga tersebut secara optimal. Demikianlah sejarahnya buruh Inggeris yang "malas" berubah menjadi buruh Inggeris yang "rajin".
Jangan dikira bahwa ini satu gejala yang khas "Barat". Pada tahun 1871 cetuslah Revolusi Meiji di Jepang, yang segera menghapuskan struktur-struktur feodal yang kolot, agar membangun satu negara dengan perekonomian modern. Salah satu langkah terpenting yalah reforme pemilikan tanah pada tahun 1873, yang membatalkan hak-milik tuan tanah feodal atas tanah sewa dan memindahkan tanah tersebut menjadi milik petani yang mengerjakannya. Seperti halnya di negeri Inggeris, terjadilah persaingan antar petani, yang menghasilkan arus petani bangkrut yang mengungsi ke kota secara terus-menerus. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikut, terjaminlah persediaan tenaga buruh di kota-kota untuk industrialisasi Jepang.
Tiada beda dengan itulah strategi usahawan Belanda akan memanfaatkan tenaga kerja Jawa untuk kebutuhan-kebutuhannya di Indonesia.
Golongan liberal Belanda bersekutu dengan Napoleon Bonapart dengan perhitungan, tentara Perancis bisa mengusir raja kulawangsa Oranye-Nassau yang konservatif, dan membantu mendirikan republik di negeri Belanda. Demikianlah jadinya, Napoleon menduduki negeri Belanda, raja Belanda lari ke London, negeri Belanda medjadi republik dan mengirim Daendels untuk memerintah di Indonesia. Disinipun diterapkannya reforme liberal, orang non-pribumi untuk pertama kali diperbolehkan menyewa ataupun membeli tanah untuk dijadikan perkebunan. Bangsawan Indonesia secara formal disederajatkan kedudukannya dengan orang Eropa.
Tapi pemerintahan Daendels tidak lama umurnya. Kemudian Napoleon kalah di Waterloo, raja Belanda kembali naik tahta. Indonesia di perintah oleh gubernur-jenderal konservatif, van der Capellen, yang segera meniadakan reforme-reforme liberal tersebut di atas. Tanah yang pernah disewakan atau dijual kepada orang non-pribumi dikembalikan, dan bangsawan-bangsawan Jawa diharuskan mengembalikan uang sewa atau harga jual tanah yang pernah diperolehnya itu dengan bunga yang berlebih-lebihan. Kewalahan mereka akan membayar bunga itulah yang menjadi latar belakang sampai berkobarnya pemberontakan Diponegoro. Tidak kebetulan, Pangeran Diponegoro banyak diagung-agungkan oleh penulis Belanda abad ke-19 yang dari golongan liberal. Akibat perang di Jawa itu, keuangan pemerintahan kolonial yang toh sudah sarat oleh hutangnya yang besar itu malah makin defisit, akhirnya van der Capellen diganti.
Penggantinya melakukan percobaan terakhir akan membuktikan, bahwa dalam zaman perekonomian kapital dan industri pabrik, ekonomi Indonesia masih bisa dibuat berpenghasilan positif dengan tetap mendasar pada tatacara konservatif. Eksperimen ini terkenal dalam sejarah Indonesia dengan istilah Cultuurstelsel, penanaman paksa hasil-hasil bumi yang mendatangkan laba besar dengan mempertahankan organisasi pengaturan dan pengawasan produksi menurut cara feodal ataupun pra-feodal tradisional setempat. Administrasi Belanda cuma tahu terima hasil bumi sesuai penugasan semula yang harus dipenuhi oleh bangsawan-bangsawan pribumi, tak peduli bagaimana caranya mereka-mereka ini terpaksa memeras rakyatnya agar kuota hasil bumi terpenuhi. Pada tahun 1849-1850, terjadi malapetaka bencana kelaparan di Jawa Tengah. Hiruk-pikuklah golongan liberal Belanda, menyalahkan politik konservatif sebagai sebab malapetaka tersebut. Ke setiap pelosok Negeri Belanda disebar-sebarkannya cerita-cerita yang merawan hati tentang anak-anak di Pulau Jawa yang mati kelaparan. Akhirnya berhasil pemerintah konservatif ditumbangkan.

0 komentar:
Posting Komentar